Nyanyian si gelandang cilik

Disaat harus merangkul semua pundak…
Menadah tetes-tetes hujan…
Meresapi bau tanah yang tersiram, dan rerumputan yang bergoyang senang…

Maka sederetan gigi terpajang…
Mengatakan, “Kami senang…Hujan datang!”
Maka bergemuruh kilat dalam dada…
Yang berjingkat ria di sela nada hujan

Biar lusuh ini terbasuh…
Biar letih ini tersisih…
Hujan…
Hujan…
Kami bernyanyi riang

Tak peduli pada hidup yang membuat kami membusuk
Tak peduli pada perut yang berkukuruyuk
Kamu hanya ingin menari bersama hujan…
Bukan, bukan menari
Tapi menangis bersama hujan

Dan kaki kaki telanjang berjingkat
Kuncir-kuncir mungil menari riang…
Sederetan gigi terpajang…

 

Nyanyian Si gelandang cilik


[22.Dec.2006–08.00 pm–Hutan.Basah.Yang.Rindang.di.Universitas.Indonesia]


Advertisements

4 thoughts on “Nyanyian si gelandang cilik

  1. Whew…Thanks 🙂

    Kepikiran aja pas kehujanan di UI, tiba2 gue merasa seneng juga liat bocah2 itu berlarian sambil hujan2an. Jadi inget masa esde yang demen banget ujan2an sampe di omelin emak gue,hehehe

  2. Huahahahaha, kasian juga yang tinggal di Bekasi. Tiap musim ujan bukannya bisa melamun & mengkhayal sambil natap ujan malah ribut treak2 nylametin barang2 takut kerendem,hehehe…

    Pakabar sis, kapan dong nonton cokelat lg? Kangen nih ma anak2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s