Harry Potter and The Orde of Phoenix


Rating: ★★★★
Category: Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy

Bagi para Harry Potter Freak pasti udah nonton film ini [kalau perlu pas premiere filmnya tanggal 11 Juli lalu. Bela2in deh ngantri berjam-jam demi menjadi saksi pertama film kelima dari ketujuh seri Harry Potter ini]. Gw sendiri untuk previous four movies juga bela2in nonton pas premiere, cuma entah kenapa untuk film kelima ini justru gw ngga ngoyo banget pengen nonton pas premiere-nya. Karena bagi gw sekarang menonton film Harpot itu lebih ke “duty” gw sebagai Harpot freak, bkn krn gw emang suka dengan akting para caster2nya atau krn emg filmnya worth it utk di antriin berjam-jam [plus emang sejak kerja gw ga bisa punya waktu seluang pas msh nganggur]

But eniwey, secara keseluruhan menurut gw film ini paling bagus diantara film-film Harpot sebelumnya. Tapi tetep untuk film Harpot tersuram itu adalah “Harry Potter and The Goblet of Fire”. Satu yang antiklimaks tapi krusial adalah momen saat Black meninggal. Awalnya [berdasarkan buku] gw pikir waktu Black kena kutukan dari Bellatrix dia akan jatuh melewati tirai lengkungan [yang gw ga nyangka tirainya itu transparan], bukannya malah seperti “tersedot” yang membuat kesan memang dia pasti sudah mati [krn di bukunya kesan yang terbentuk adalah Black hanya sekedar terjatuh, bukan melayang2 gitu]. Dan yang seru adalah ngebahas hubungan Harry-Cho, whooo… ngga nyangka ternyata Daniel Radcliffe udah remaja ya, udah tau caranya berciuman [kayanya udah gape tu cowo. Duh, kok jadi mupeng? hehehe]

Nilai plus dari film ini [menurut hemat gw] adalah sentuhan “panorama” kota yang menambah “kemanusiawian” film ini. Stau gw di film2 sebelumnya film ini cuma nampilin efek2 sihir standar, tp di film ini mereka udah masukin view-nya London saat mereka terbang ke Grimauld Palace 12, either waktu sama anggota Orde atau saat terbang dengan Thestral sama Laskar Dumbledore. View-nya keren bangeeet!!

You should watch this movie [chemistry antara Harry-Ginny udah berasa lho disini!]. Four stars are worth it..🙂

~ Iwed & Sonny ~
30.07.07
21 Setiabudi One

14 thoughts on “Harry Potter and The Orde of Phoenix

  1. Bageeeuss… Aktingnya makin natural. Yang bikin gw happy si Bonnie Wright [Ginny Weasley] emang beneran jadi cantik banget! Sesuai sama bukunya, makin besar makin cantik. Worth it lah ntar jadi couple-nya Harry in the end of the story. Moga2 aktingnya sebagus Emma Watson pas film Harry Potter and the Half-Blood Prince, soalnya peran dia disitu udah mulai banyak.

  2. udah nonton…tapi sayangnya gw gak setuju. Ceritanya garing, efeknya basi, harry dkk nya jadi sok tua, nggak asyik lagi…keteteran di skenario dan susunan cerita…*film yang aneh*

  3. garink karena ga sesuai sama bukunya atau gimana? Mmm… Mungkin karena menurut gw buku kelima Harpot itu bagus makanya gw enjoy2 aja nonton film-nya.
    Dan menurut gw, kayanya mereka ga ketuaan deh, emang mereka udah pada dewasa [Bonnie Wright aja udah 16 thn, Rupert Grint 19, Daniel Radcliffe 18 dan Emma Watson 17 tahun]. No wonder akting mereka udah ga childish lagi…🙂

  4. gw menonton justru tidak mau membandingkan dengan bukunya. Film ya film, buku ya buku. Itu dua medium yang sangat berbeda dan harus diperlakukan dengan cara yang berbeda. Buku-buku yang kemudian diadaptasi ke layar lebar harus bisa berdiri sendiri dan dinikmati sebagai sebuah karya film yang utuh. Sebagai film, dia harus bisa dimengerti oleh semua orang, baik yang baca maupun yang tidak membaca bukunya. Ngapain nonton filmnya kalau kemudian kita harus kembali melihat bukunya untuk mengerti? Kalau menonton filmnya, kemudian orang harus lihat lagi bukunya untuk melengkapi apa yang hilang dilayar, itu berarti ada yang salah dengan filmnya…? IMHO loh

  5. [ini sedikit banyak berlaku buat gw, ngga tau buat yang lain]
    Kalo gw menonton film yang di adaptasi dari buku atau sebaliknya… Agak susah bagi gw untuk tidak membayangkan “si buku” waktu gw menonton “si film”. Dan saat akhirnya Harpot di visualisasikan, kadang imaginasi “dasar” gw ttg masing2 tokoh bisa terpengaruh sama apa yang terlihat di film. kalo loe bisa separate itu, wah loe hebat banget. Krn jujur gw blm sepenuhnya bisa ngelakuin itu [contoh aja untuk LOTR, Eragon, The devil wears prada dsb]

  6. ya, memang semua tergantung kebiasaan. Kenapa gw sampe bilang film LOTR itu bagus, karena gw bisa bercerita sama lancar sama adik gw yang sudah baca bukunya tapi belum nonton filmnya. Artinya film LOTR tidak menyisakan ruang untuk 'bingung' karena pembuat filmnya bisa merangkum apa yang ada di buku dan membuat semua orang mengerti baik yang sudah maupun belum membaca bukunya. IMHO loh..

  7. ya nggak hebat dong…standar menonton film kan ya harus bisa menikmati filmnya. Masa ke bioskop nonton film tapi harus inget inget buku yang ditinggalin di rumah. Filmnya gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s