Restoran Abunawas, Matraman Jakpus

Baru aja balik dari resto ini, perut melendung udah kaya hamil 7 bulan, kekenyangan dan bego [ktemu kasur bisa langsung lewat]. Sumpah gw ga bisa bilang apa2 atau cas cis cus soal makanannya secara detail dan menu2nya juga. Yang pasti bagi yang suka banget makanan Arab, terutama nasi briyaninya, tempat ini emang paling top deh! Kebetulan karena makan rame2 sama temen2 kantor, kita jadi pesen VIP room yang cukup nampung 30-an orang. Tempatnya bergaya lesehan dengan sofa lantai & bantal2 yang nyaman banget. Dekor cahayanya remang-remang kemerahan. Bikin betaaah banget berlama-lama males2an disitu terutama pas perut udah kenyang. Sambosa-nya paling gw suka [semacam gorengan yang isinya daging cincang]. Untuk nasi briyani gw sukanya yang bukan bumbu tomat. Tapi yaaa, scarra gw orang minang jadi agak “down” aja karena ternyata sambel nya sama sekali ga pedes alias isinya tomat smua!! Saking desperate-nya gw makan nasi briyani pake cabe rawit. Sampe dibilang aneh sama temen gw. Sebodo dah!! Kebab-nya oke, walau ga bisa dibilang lezat banget.
Lumayan mengurangi kangen gw sama masakan Arab waktu gw umroh 3 tahun yang lalu. Puas lah [terutama karena gratis! hehehe…], agak nyesel juga lupa bawa camera gw buat foto2 suasana disana siang ini, terutama VIP room-nya. Nyaman banget…!!
Enjoy the review I took by Googling it.
~G~

************

Mendengar nama Abunawas, ingatan sebagian besar di antara kita pasti akan melayang ke negeri 1001 malam. Terlintas bayangan seorang laki-laki, dengan baju khas, kumis melintang dan sepatu dengan ujung melengkung keatas.

Paling tidak, sebagian dari bayangan itu memang akan ditemui jika kita mengunjungi restoran Abunawas. Walaupun tidak semua pramusajinya mempunyai kumis melintang, namun pakaian yang dikenakan memang mirip dengan tokoh yang dikenal cerdik ini. Soal makanan, jangan tanya. Memang restoran ini (terutama) menyajikan masakan gaya Timur Tengah.

Teh Mint dan Salad Ala Abunawas

Iga kambing Bakar

Cukup lama saya mengamati daftar makanan dan minuman yang tertulis di menu yang disodorkan salah satu “Abunawas”. Walaupun menampilkan diri sebagai restoran Timur Tengah, di restoran yang berdiri sejak tahun 1999 ini ada sejumlah makanan dan minuman “bukan dari sono” yang tercantum di menu. Dan itu tidak masuk dalam hitungan saya. Dengan memperhitungkan perut yang baru saja meninggalkan bulan puasa, akhirnya saya pilih beberapa menu yang nampak menarik untuk dicoba.

Sebagai appetizer, saya pilih Salad ala Abunawas, yang resminya bernama Fatush. Ditambah dengan Samosa. Supnya, saya pesan Sorbaht adas alias lentil soup. Untuk main course saya pesan iga kambing bakar alias Riyash Ghonam. Menu ini dimakan dengan roti Qobush. Selain itu, saya tertarik juga dengan nasi briyani. Nasi Briyani yang tersedia dapat disertai daging kambing atau ayam. Karena sudah pesan iga kambing bakar, saya pilih nasi briyani dengan ayam. Selain itu, karena tertarik saya juga pesan Mugalgal Musyakal, alias tumisan daging, hati dan ginjal. Karena sudah banyak makanan yang dipesan, dessert saya lewatkan. Sebagai penutup, saya pesan teh daun mint. Begitu banyak ya, menu yang saya pesan. Jangan lupa, saya berdua dengan ketua NCC!

Tamu Bergantung Bulan

Nasi Briyani

Sambil menunggu pesanan, saya berbincang dengan manajer restoran ini. Manurut bung Yasir manajer Abunawas, tamu yang mengunjungi restoran ini bergantung pada bulan. Pada bulan-bulan Juni-Agustus, kebanyakan tamu berasal dari Timur Tengah. Mereka adalah para pengusaha yang sedang mengadakan perjalanan bisnis ke Indonesia. Restoran ini memang didirikan oleh pemiliknya sebagai diversifikasi usaha, yang banyak terkait dengan wilayah Timur Tengah. Di luar bulan-bulan itu dapat dipastikan yang memadati restoran ini adalah orang-orang kita.

Ada perbedaan kebiasaan makan antara orang Indonesia dan warga Timur Tengah. Jika orang-orang kita umumya memadati restoran pada saat jam makan tengah hari, warga Timur Tengah umumnya baru datang ke restoran di atas jam 3 sore. Bisa jadi mereka terlebih dahulu menyelesaikan urusan bisnis, baru mengurusi perut. Lain padang, lain belalangnya kali ya….

Private Room dan Lesehan

Oleh manajer Abunawas, sdr. Haris, saya diajak ke lantai dua. Di lantai bawah, disiapkan untuk mereka yang menghendaki cara makan konvensional. Maksudnya, duduk di kursi. Saya menghendaki gaya makan model asli negara 1001 malam. Timur Tengah tradisional tidak mengenal kursi, tapi memanfaatkan Jalasa Arabi, alias duduk lesehan di karpet.

Ada dua macam lesehan yang disediakan restoran ini. Lesehan di ruang “terbuka”, atau di private room. Untuk private room ada jumlah minimum yang harus dipenuhi.

Di ruang lesehan “biasa” terdapat pernak pernik kuliner, yang dijadikan pajangan maupun yang biasa dipakai. Salah satunya adalah sandaran tangan, yang biasanya digunakan untuk bersantai sambil mengisap tembakau gaya Badui, alias Sosha. Berhubung saya bukan perokok, saya cuma minta ditunjukkan caranya mengisap tembakau gaya padang pasir. Gaya merokok seperti ini pernah menjadi “mode” di kalangan tertentu di Jakarta, karena dianggap eksotis (dan katanya rasanya juga lain, walau saya gak ngeh gimana membedakan rasa asap, he..he..).

“Kuah” Yogurt

Sambosa

Puas berbincang dan melihat beberapa private room, menu yang saya pesan mulai disajikan oleh pramusaji berpakaian a la Abunawas. Saya mencoba “tertib” dengan pertama kali makan salad. Yang berbeda dengan salah kebanyakan (di restoran Barat, maksud saya) adalah adanya potongan-potongan kecil roti khas Timur Tengah. Bahan lainnya adalah potongan timun, wortel, tomat, daun salad, ditambah beberapa butir buah zaitun hitam dan daun mint sebagai garnish. Dressingnya adalah apple vinegar.

Sambil makan salad, saya nikmati Sambosa hangat.

Tidak sampai habis salad, saya masuk ke main course daging iga kambing bakar. Cara makannya pakai tangan, dengan menyobek roti segigitan, lalu makan daging iga yang (untuk ukuran lidah tradisional Indonesia) terasa agak hambar. Lebih tepatnya, rasanya masih alami.

Sebagai bangsa yang terkenal sebagai “pemakan” daging, warga Timur Tengah punya banyak cara untuk menghilangkan rasa “nek” karena mengkonsumsi daging. Salah satunya adalah dengan makan (atau minum ya?) semacam sup yang terbuat dari yogurt. Dengan menyeruput cairan berasa asam ini seketika hilang sisa rasa daging atau lemak di mulut.

Mugalgal Musyakal

Tidak sampai habis iga bakar, saya beralih ke nasi briyani daging ayam. MMmm, enak juga. Saya sengaja pesan Nasi Briyani “kombinasi”, sesuai saran manajer restoran ini. Maksudnya, separo porsi adalah nasi briyani dengan bumbu tomat, separonya lagi bukan. Jadi, saya bisa merasakan dua-duanya. Jadi ingat menu Magelangan. Nasi goreng campur mie goreng.

Berhubung sudah banyak menu yang disantap, walau cuma sebagian-sebagian, perut sudah mulai memberi sinyal penuh. Saya stop makan dan ganti menikmati teh daun mint. Sebenarnya seperti teh biasa, cuma sebelum dituang ke gelas, terlebih dahulu diberi daun mint. Terasa aroma “odol” yang menyegarkan.

Menu Paket

Teh Mint

Untuk keperluan perayaan, atau rombongan, restoran ini menawarkan menu paket. Maksudnya, antara lain, supaya tidak susah mikirin menu yang kadang mesti ditanyakan dulu kepada para Abunawas-wan dan Abunawas-wati. Dengan paket 1 seharga Rp55ribu/pax kita sudah bisa menikmati menu makanan lengkap. Jika mau tambah jenis makanan utamanya, plus dessert yang lebih variatif, cukup pesan paket Rp 75ribu/pax.

Atau, jika lebih suka masakan kambing, ada paket satu ekor kambing seharga Rp 1 juta. Biasanya bisa dinikmati sampai 30 orang.

Minat? Silahkan datang ke restoran yang terletak di Jalan Matraman No.15, Jakarta Timur. Atau, di dekat gedung Fuji Matraman, ke arah Jalan Proklamasi. Restoran ini buka tiap hari, jam 9-24 malam. Telpon 021-8583914. Restoran yang didirikan oleh Bp. Mari’e Amir Thalib ini juga melayani outside catering dengan jumlah minimum 40 pax. ( Photos & Stories by Wisnu AM )

 

Advertisements

26 thoughts on “Restoran Abunawas, Matraman Jakpus

  1. Siapa bilang cuma bisa satu aja bang? Bisa banyak kok. Setelah satu pic ke upload, klik upload foto lagi. Ntar kalo mau disusun posisi foto2nya tinggal drag aja fotonya ke tempat yang mau di taro…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s