Khatam

Katamu akhirnya khatam.
Kataku akhirnya khatam.

Kata hatiku bilang ini tambah panjang, jauh dari khatam.

Tapi aku hanya diam. Karena aku menikmati.
Disisi lain kemungkinan, yang dinikmati itu adalah rasa nyeri.
Menggunduk, bergunduk membuat gundukan.

Kau seperti akan mendiamkan.
Mengawasi lembar-lembar menggunduk meninggi.
Aku seperti akan membiarkan.
Menertawai gundukan yang semakin membuat nyeri.

Lalu kita akan memakan lembaran itu bersama-sama.
Seperti tikus-tikus kotor yang kelaparan.
Memakan habis isi cerita dalam tiap sapuan lembar.
Sampai tenggorokan lecet, sampai suara serak.

Orang-orang akan mencemooh kita.
Kita membuat sampah untuk kita telan sendiri.
Kita membuat bau untuk kita hirup sendiri.
Kita membuat luka kesakitan untuk kita rintihi sendiri.

Tapi toh gundukan itu masih rendah.
Masih ada waktu, kita masih bisa bercanda-canda.
waktu akan datang bersama kenyataan.
Bagai air bah di gurun pasir, kita tidak akan siap.

Walau aku sudah bisa mencium bau busuknya dari sini.
Sekarang ini.
Detik ini.
Lembar-lembar itu masih menggunduk.
Masih jauh dari khatam.
Maka tertawalah, sayang.
Kita nikmati saja dulu rasa nyeri, sebelum pedih itu akhirnya melingkupi.

~G~
Advertisements

10 thoughts on “Khatam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s