United We Care, In Loving Memory of Robin NOXA.

Lagu Duka untuk Sang Drummer

Sebanyak 35 band manggung untuk mengenang Robin Hutagaol, drummer band Noxa.

Matanya memerah dan berkejapkejap. Titik air mengalir di sudut- sudut matanya. Lalu dengan jemari tetap menari di atas frets, Anggaspin, gitaris grup band Gelap, menengadah menutup mata. Ia mengatur napas.

Sementara itu, di sisi lain panggung itu, lengkingan dua vokalis wanita, Rinsdark dan Iwed Goddess, berkumandang. Paduan musik Gothic yang melodius dan menyayat hati terdengar. Mereka tampil di Bulungan, Jakarta Selatan, Minggu lalu, untuk mengenang Robin Hutagaol, drummer band grind core Noxa.

Pada 17 Januari lalu, Robin meninggal dunia di Rumah Sakit Husada, Jakarta. Sebuah kecelakaan pada 12 Januari lalu menjadi pangkalnya. Saat bermotor akan menjemput istrinya, Robin ditabrak sebuah mobil Kijang di depan Balai Sudirman. Pelakunya lari. Teman-temannya lalu bergerak. Promotor Solucites menghimpun pendekar-pendekar band “bawah tanah”. Mereka sepakat menggelar sebuah “reuni”. Hasilnya adalah 35 band bergantian manggung sekitar 12 jam berturut-turut, sejak pagi hingga malam.

Hasil penjualan tiket dan cendera mata diniatkan untuk Robin. Tadinya, semua dana yang terhimpun akan digunakan untuk membantu membiayai operasi. Tapi apa daya, Robin keburu wafat. “Seluruh dana amal akan diserahkan ke keluarga almarhum,” kata Fadil, host acara, kepada Tempo, Minggu lalu.

Ratusan orang memadati Bulungan dengan baju-baju hitam, warna musik bawah tanah sekaligus ekspresi berduka. Di depan panggung, orang-orang berhimpun. Entakan musik memandu gerak mereka. Bendera-bendera kertas berwarna kuning, tanda duka, diacungkan oleh penonton. Silih berganti, sebelum membawakan lagu, para pentolan kelompok musik menyampaikan belasungkawa. Penonton berkalikali ikut menunduk dan berdoa. Puluhan band masing-masing membawakan dua lagu, dengan durasi panggung 15 hingga 20 menit.

Doni Iblis, vokalis growler band Funeral Inception yang sudah mendunia di ranah “bawah tanah”, menyampaikan rasa marahnya terhadap penabrak Robin yang tak bertanggung jawab. “Pengecut lebih baik mati saja,” kata dia sebelum menyanyikan lagu Lebih Baik Mati dan Surga di Bawah Telapak Kaki Anjing. “Semangat Robin akan terus hidup di hati kita,” Doni menambahkan.

Band-band yang tampil di acara bertajuk “United We Care: In Loving Memory Robin Hutagaol” itu bukan saja pengusung musik cadas macam Purgatory dan Burgerkill. Ada pula nama nyetun seperti The Brandals dan The Upstairs.

Seusai pemutaran video testimoni sekitar pukul 19.00 WIB, yang berisi ucapan duka untuk keluarga Robin, pertunjukan dilanjutkan dengan persembahan Noxa. Semakin malam, ada Netral dan Naif. “Semua rela tak dibayar,” kata Fadil.

Robin bukanlah sembarang orang. Kontribusinya terhadap musik metal berceceran di mana-mana. Selain menggebuk drum untuk Noxa, ia pernah terlibat di Suckerhead. Jaringannya di ranah musik metal menembus batas-batas negara. Robin juga salah satu pelopor penindik profesional di Indonesia. Ia juga merintis usaha distro dengan label “Ish Kabible”. Ia juga aktif melobi untuk mendatangkan musisimusisi dari luar. Campur tangannya yang terakhir adalah ikut mendatangkan Lamb of God, band metal core asal Amerika Serikat yang dipastikan manggung pada Maret nanti.

Dikutip dari situs Solucites (solucite. com), gitaris Phil Sgrosso (As I Lay Dying) juga berduka. “Dia orang yang unik dengan rasa humor yang baik. Saya selalu mengingat kerja keras dan keramahannya kepada kami selama di Jakarta,” ujarnya. Saat As I Lay Dying datang ke Jakarta, Robin adalah liaison officer mereka.

Maka, saat Robin pergi, para aktivis musik cadas berduka. Mereka menggelar reuni untuk Robin. Di atas kain putih, mereka menorehkan tanda tangan dan pesan-pesan untuk mengenang sang “Duta Metal Indonesia” itu. Mengutip sebuah pesan di situ: “deep in our hearts you will live again, you’re gone to the home of the brave.” IBNU RUSYDI

Source taken from here.

******

photos from Rinsdark’s camera are upcoming.

Advertisements

14 thoughts on “United We Care, In Loving Memory of Robin NOXA.

  1. Yeps, yang motret namanya Asra, link-nya ada di caption foto, bro.. Lagu yang kita bawain “Ashes” dan “Gerbang Timur”. Masing-masing band cuma kebagian bawain dua lagu, sangking banyaknya band yang main tapi waktu terbatas.

    Tapi kita semua ikhlas, it was all for Robin… 🙂

  2. boleh gak kalo gw usul jd :
    “charity for our indonesian hunger people”

    more than one million people in indonesia is more poor and pity than anyone else in other country…
    every one please look at our country and our land….
    no one even care about our country, so it is time for us to save our own nation,,, blood of our self…

    usul aja sih…. thanks…
    🙂

    \m/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s